Mengasah Kecerdasan Spiritual Melalui Ramadhan
Saturday, 02 August 2008
Beberapa tahun terakhir ini ramai diperbincangkan tentang “Spiritual Quotient” atau Kecerdasan Spiritual. Berbagai hasil penelitian modern membuktikan bahwa kecerdasan spiritual memiliki posisi dan peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Ciri orang yang cerdas secara spiritual di antaranya adalah ia bisa memberi makna dalam kehidupannya; sehingga ia memiliki sikap yang positif dalam memandang setiap persoalan, optimis dan tidak mudah stress.
Dari hasil penelitian yang dilakukan di Pesantren Hidayatullah Surabaya tentang pengaruh salat Tahajjud oleh Dr. Mohammad Sholeh untuk disertasi doktor beliau di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, pada tahun 1999-2000 menunjukkan bahwa tahajjud maupun puasa mampu menurunkan kadar sekresi hormon kortisol, yang secara medis mampu meningkatkan respon ketahanan tubuh imonologik. Kesimpulan yang hampir sama juga diperoleh dari hasil penelitian Dr. dr. Zainullah tentang pengaruh Puasa Ramadhan, untuk disertasi program doktornya di tempat yang sama.
Rajin beribadah, cerdas spiritualnya?
Iman serta ibadah kepada Allah seharusnya menjadikan seseorang memiliki jiwa yang tenang, damai serta bahagia. Dimana perasaan tenag, damai dan bahagia itu merupakan indikator orang yang cerdas secara spiritual. Allah menjanjikan orang-orang yang beriman dan beribadah kepada-Nya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du [13]: 28).
Akan tetapi pada kenyataannya masih banyak orang yang merasa beriman kepada Allah, dan rajin beribadah sedang jiwanya tidak menunjukkan tanda-tanda ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan itu. Apa yang salah?
Jika hal diatas terjadi, boleh jadi imannya baru sebatas pengetahuan, belum menjadi system keyakinan. Demikian juga ibadah yang dilakukan boleh jadi baru merupakan gerakan fisik yang tidak disertai dengan gerakan hati. Padahal Islam mengajarkan kepada kita untuk meluruskan niat dan motivasi, khusyu’ dalam ibadah, bersyukur kepada-Nya, berserah diri (tawakkal) kepada-Nya setelah berikhtiyar secara maksimal, Ridha dengan apa yang diberikan oleh Allah.
Jika seseorang tidak rela dengan keadaan dirinya, masih merasa terganggu jika karyanya tidak diperhatikan dan dihargai manusia, selalu merasa diperlakukan tidak adil, mudah hasud dengan keberhasilan orang lain, dan tidak mudah memaafkan kesaahan orang lain; itu artinya iman tersebut dan amal shalehnya masih harus disetting ulang.
Ibadah Ramadhan dan kecerdasan spiritual
Ibadah Ramadhan merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki potensi sangat besar untuk mencerdaskan spiritual bahkan mencerdaskan iman. Hal ini karena seluruh rangkaian ibadah di Bulan Ramadhan didesain oleh Allah untuk mengasah kembali kecerdasan ruhiyah manusia.
Jika seorang mukmin melakukan amaliyah Ramadhan dengan benar selama sebulan penuh, bukan saja memiliki kecerdasan spiritual, bahkan lebih dari itu mampu membangun “kecerdasan iman”. Ibadah Ramadhan mengkondisikan hati untuk ikhlas, menciptakan suasana ibadah dengan khuyu’, mengosongkan perutnya dengan berpuasa, berusaha bersabar dengan berbagai ujian, mendorong untuk melakukan perbuatan yang baik kepada orang lain, dan masih banyak lagi.
Perilaku diatas secara empiris mampu menurunkan gelombang otak dari posisi Betha ke posisi diantara Alfa – Theta, dimana seseorang akan merasakan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Intuisi dan inspirasi yang brilian mudah muncul dalam suasana seperti ini. System perkabelan otaknya (neuropeptide) serasi dan kortisol pada struktur darahnya dalam keadaan yang rendah, sehingga tidak mudah dihinggapi stress dan fisiknya menjadi sehat.
Lebih dari itu, yang jelas puasa Ramadhan yang dilakukan dengan benar akan mengantarkan seseorang mencapai kualitas taqwa. Dengan taqwa fisik lebih sehat, spiritual menjadi cerdas, ruhani menjadi bersih, dan yang tidak kalah pentingnya diridhai oleh Allah. Kualitas ini tidak mungkin dicapai oleh orang lain selain orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. Wallahu a’lam bis-shawab. [Ainur Rofiq
Rabu, 20 Agustus 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar